Iklan

, Jumat, November 13, 2020 WIB
Last Updated 2020-11-14T13:56:56Z
Berita Terkiniberita utama

Malahayu.xyz Awan kabut putih menyelimuti Gunung Merapi yang berada di antara wilayah Provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta

Advertisement

malahayu

Malahayu.xyz
 Awan kabut putih menyelimuti Gunung Merapi yang berada di antara wilayah Provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta, Kamis (12/11/2020) pukul 15.05 WIB. Dari balik kabut itu, gunung setinggi 2.930 meter tersebut terlihat indah juga menakjubkan.

Kondisi ini terpantau kamera CCTV di daerah Srunen, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Kamis (12/11/2020) pukul 15.05 WIB. Ada 12 kamera CCTV yang dipasang oleh Kementerian ESDM di sejumlah wilayah untuk mengontrol aktivitas Gunung Merapi yang telah berstatus siaga sejak pekan lalu, 5 November 2020.

Di balik sampul kabutnya, Gunung Merapi menyimpan aktivitas seismik yang tinggi. Peningkatan aktivitas seismik itu dipengaruhi oleh adanya magma dari dalam perut bumi yang akan naik menuju permukaan. Sehingga batuan yang ada di sekelilingnya pun akan mengalami tekanan.

Apabila batuan-batuan tersebut sudah tidak mampu untuk menerima tekanan, maka akan muncul retakan dan terjadi gempa vulkanik.

"Aktivitas seismiknya masih tinggi, kubah lava Merapi belum muncul atau belum ada," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (12/11/2020).

Dia menjelaskan, saat ini tingkat keaktifan gunung Merapi melebihi data seismik pada 2006 lalu tapi tidak sedahsyat yang terjadi tahun 2010. Dalam kejadian 26 Oktober 2010 itu, sedikitnya 353 orang tewas termasuk Mbah Maridjan.

Hanik sebelumnya mengatakan, menurut data-data yang ada, volume magma Gunung Merapi kali ini melebihi 2006. Namun begitu, dia menekankan, bahwa volume pasti magma tersebut masih belum diketahui secara jelas.

"Oh belum, volume magmanya belum. Ini yang melebihi dari 2006 itu data-data seismiknya. Untuk volume kubah lavanya saya sampaikan tadi, belum muncul. Jadi kita belum tahu," ujar dia.

Dia lantas membandingkan data-data seismik Gunung Merapi antara 2006, 2010, dan 2020. Hanik memaparkan, kondisi gunung tersebut sebelum kubah lava muncul pada 26 April 2006 lalu, dalam rata-rata tiga hari tercatat VA: 0, VB: 6, MP: 193, LF: 1, RF: 20, dengan laju pemendekan dari Babadan tercatat 1cm/hari.

"Kemudian kondisi Merapi menjelang erupsi tanggal 26 Oktober 2010, rata-rata tiga hari BPPTKG mencatat VA: 7, VB: 120, MP: 579, LF: 1, RF: 227, dengan laju pemendekan tercatat dari Kaliurang sebesar 23cm/hari," lanjut dia.

Sedangkan kondisi saat ini data rata-rata 3 hari hingga tanggal 11 November 2020 pukul 15.00 WIB, tercatat VA: 0, VB: 33, MP: 341, LF: 2, RF: 45, dengan laju pemendekan dari Babadan sebesar 12 cm/hari.

""Kemiripannya seperti 2006 namun demikian karena ini datanya sudah melampaui tahun 2006 potensi untuk eksplosif itu juga masih ada. Namun, lebih rendah daripada kondisi erupsi menjelang tahun 2010," sambungnya.

Dia mangungkapkan dari prakiraan bahaya bila erupsi terjadi, wilayah yang terdampak berada pada jarak lima kilometer dari Gunung Merapi. "Bukan radius 5 kilometer," ucap dia.

Sementara di sisi Utara Gunung Merapi, berdasar sejarah erupsi, kata Hanik, kemungkinan kecil terdampaknya tidak sejauh lima kilometer.

"Nah ancaman saat ini, skenario yang ada tentunya kalau terjadi ekstrusi (peristiwa keluarnya magma ke permukaan bumi). Padanananya kan 2006, pada tahun itu adalah ada ekstrusi magma, yang kala itu ada kecepatan magma tertentu," ujar dia.

Hanik melanjutkan, skenario dibuat bila tingkat ekstrusinya melonjak hingga 100 ribu meter per hari. Kemudian kubah lava yang memenuhi kawah mencapai 10 juta meter kubik dengan material yang akan dilontarkan perkiraan mencapai 50 persen.

Jadi, ucap dia, bahaya yang terjadi adalah di Kali Woro (sejauh) 6 km, Kali Gondol 9 km, Kali Opak 6 km, Kali Kuning 7 km, Kali Boyong 6,5 km, Kali Krasak, 7 km, Kali Putih 5 km, Kali Senowo 8 km, Kali Trising 7 km, Kali Apu 4 km.

"Ini ancaman bahayanya. Kalau nanti ada pertumbuhan kubah lava, tentunya kita melihat kecepatannya seberapa dan nanti volume maksimumnya berapa," ujar dia.

Guguran lava yang terjadi saat ini, lanjut Hanik, dominannya adalah ke Senowo, Lamat, Gendol dengan jarak maksimal tiga kilometer.

Dia mengungkapkan sejumlah hal yang hang harus dilakukan saat siaga ini. Yaitu menghentikan penambangan di alur-alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Kemudian tidak melakukan pendakian dan tidak berkegiatan di daerah bahaya.

"Segera mengungsi jika terjadi guguran lava atau awan panas yang terus menerus," imbau Hanik.